Sinopsis Film Terminator: Dark Fate (2019)

Film Terminator: Dark Fate melupakan 3 film pendahulunya yang jatuh di pasaran serta jadi sekuel langsung dari 2 film Terminator awal.

cakra hudayaMarch 2, 2020Views Sinopsis Film Terminator: Dark Fate (2019)

sinopsis terminator dark fate

Film Terminator: Dark Fate melupakan 3 film pendahulunya yang jatuh di pasaran serta jadi sekuel langsung dari 2 film Terminator awal. Jadi, jangan heran jika film ini tidak menyambung cerita Terminator 3, Salvation, ataupun Genisys. Mengandalkan aktor gaek Arnold Schwarzenegger serta Linda Hamilton, dan kemunculan kembali James Cameron di balik layar, waralaba Terminator semacam memperoleh harapan baru.

Semacam yang dipaparkan dalam plotnya, film Terminator: Dark Fate mengisahkan masa depan yang ditafsirkan pada Terminator( 1984) serta Terminator 2: Judgement Day( 1991) tidak terjalin sebab Skynet sukses dikalahkan. Film ini berpusat pada Danielle/ Dani Ramos( Natalia Reyes), seseorang perempuan biasa yang tinggal bersama adik serta bapaknya di Mexico City.

Kala Terminator Rev- 9( Gabriel Luna) yang diperintahkan buat menewaskan Dani menciptakannya, Grace( Mackenzie Davis) tiba menyelamatkan. Tidak cuma itu, emak- emak bad- ass Sarah Connor( Linda Hamilton) serta T- 800/ Carl( Arnold Schwarzenegger) juga muncul buat melawan Rev- 9 yang sangat sulit dikalahkan.

Film aksi dari dini sampai akhir

Dark Fate masih mengandalkan premis utama dari seri Terminator tadinya, dimana Artificial Intelligence( teknologi kecerdasan buatan) tumbuh sehingga mempunyai benak sendiri serta kesimpulannya melanda manusia. Dalam film ini, tidak terdapat Skynet– sebab masa depan sudah berganti– tetapi kepribadian utama mengalami ancaman dari Legion, A. I. yang bertugas memburu manusia yang masih tersisa.

Mengingat kedatangan kembali Cameron sehabis terakhir ikut serta dalam waralaba ini pada T2 memanglah membagikan harapan baru. Duduk di sofa eksekutif produser, Dark Fate yang ditunjukan oleh Regu Miller sukses menyajikan thriller kelas atas. Budget yang lumayan besar( pasti saja ditambah deretan aktor serta aktris papan atas) berbanding lurus dengan aksi yang diberikan.

Nama besar Regu Miller bagaikan sutradara film aksi memanglah bukan soal. Sukses bawa Deadpool( 2016) serta– spesialnya– Deadpool 2( 2018) bagaikan film dengan rating berusia termahal saat sebelum dikalahkan Joker( 2019) sebagian waktu kemudian, pemirsa hendak dibekap dengan atmosfer mencekam dari kejar- kejaran serta pertarungan yang sangat intens.

Sekuel yang pantas buat T2

Film Terminator: Dark Fate mencirikan instalasi keenam dari segala waralaba yang melambungkan nama Schwazenegger bagaikan aktor film aksi Hollywood. Tetapi sehabis T2, film- film berikutnya tidak begitu mengena. Serta baru di Dark Fate, nampak secercah harapan buat kelanjutan seri ini.

Walaupun masih memakai tema lama, semacam pertentangan antara manusia serta mesin dan pemikiran menimpa takdir ialah pengulangan dari konsep yang sudah dieksplorasi oleh film tadinya. Tetapi perbedaanya, eksekusi yang lebih matang, cerita yang lebih padat, ditambah plot yang menarik

Terdapat banyak callback serta rujukan terhadap film tadinya. Semacam ungkapan“ I’ ll be back” yang diperbarui( 2 kali, tetapi dalam wujud yang berbeda), dan keseruan kejar- kejaran yang mendebarkan seperti pada 2 film pertamanya. Tetapi terdapat perihal baru yang ditampilkan, semacam pertarungan di pesawat serta salah satu seting di kamp penahanan perbatasan Amerika yang mungkin besar memiliki faktor politis.

Yang mengesankan dari Dark Fate merupakan gimana elemen klasik dalam seri ini terbuat lebih fresh serta baru. Contohnya kepribadian Sarah Connor yang terbuat bad- ass memakai bermacam senjata– mulai dari AK- 47 sampai bazooka– menembaki Rev- 9. Serta pasti saja kedatangan T- 800 Schwazenegger yang jadi nyawa dari seluruh seri Terminator.

Perpaduan kepribadian lama serta baru juga jadi sorotan. Kedatangan kepribadian baru, semacam Dani serta Grace membagikan corak berbeda buat melanjutkan waralaba ini kedepannya. Gab Luna juga tampak mengesankan walaupun latar Rev- 9 cuma jadi tipe upgrade dari T- 1000 kepunyaan Robert Patrick pada T2.

Premis serta cerita nyaris serupa

Sebagian adegan aksi yang baru( semacam di pesawat terbang ataupun di dasar sungai) penuhi ketentuan buat keseruan menyaksikan film ini. Tetapi, kohesi serta narasi yang tidak lebih padu dibanding 2 film awal merupakan kekurangan besar, terlebih dengan premis yang nyaris sama. Sebagian besar aksi disuguhkan dengan tampilan wah serta di informasikan dengan style serba mutahir, tetapi lemah dalam kedalaman cerita. Lack of intimacy.

Tidak hanya itu, terdapat sebagian perihal yang membuat keasyikan menyaksikan menurun. Salah satunya sebagian adegan yang lebih dulu dijabarkan pada trailer. sayangnya, sebagian adegan mengesankan telah lebih dulu dibeberkan pada pemirsa melalui trailer.

Untuk yang sudah memandang trailernya, sejauh film juga tidak dipaparkan kenapa T- 800 dapat menua secara organik walaupun ia mempunyai tubuh robot. Minimnya perinci serta uraian dari sebagian adegan serta aksi membuat film ini lebih banyak menciptakan persoalan tanpa jawaban. Tercantum adegan yang sedikit membingungkan( meski masih mengasyikkan buat ditonton) dari pertarungan di dalam pesawat.

Secara totalitas, premis serta tema yang tidak jauh berbeda membuat film Terminator: Dark Fate dapat bernasib semacam 3 film terakhir dari waralaba ini. Tetapi eksekusi matang jelas- jelas jadi energi tarik. Sesuai diucap bagaikan film ketiga terbaik, sehabis Terminator serta T2. Tetapi bila memanglah Dark Fate merupakan seri awal dari trilogi yang hendak tiba, terdapat banyak perihal yang wajib ditingkatkan.

Categories

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published
Website