Review Film The Turning

Film yang terbuat oleh penulis waralaba The Conjuring dan produser IT( 2017)

cakra hudayaMarch 12, 2020Views Sinopsis Film Doctor Sleep

the turning

Pada awal 2020, bioskop- bioskop Indonesia disuguhkan dengan beberapa film dari bermacam berbagai genre, enggak terkecuali horor. Salah satu film horor yang hendak tayang pada Februari ini merupakan The Turning yang ialah menyesuaikan diri dari novel karangan Henry James.

Film yang terbuat oleh penulis waralaba The Conjuring dan produser IT( 2017) ini memfokuskan ceritanya pada seseorang tutor privat yang mengajar di rumah orang kaya. Tetapi, beberapa kejadian aneh serta mengerikan juga terjalin kala tutor yang bernama Kate Mandell ini menginap di rumah elegan tersebut. Apakah si tutor sanggup bertahan melawan beberapa roh jahat yang mengganggunya di rumah keluarga Fairchild tersebut?

Nah, saat sebelum menyaksikan filmnya, ikuti dahulu pembahasan KINCIR menimpa The Turning di dasar ini, ayo!

Plot Berbelit tanpa Ending yang Jelas

Film ini menceritakan tentang Kate( Mackenzie Davis) yang terpanggil oleh keluarga Fairchild buat mengajar anak bungsunya yang bernama Flora. Kate yang mempunyai seseorang bunda dengan kendala mental ini juga berangkat ke rumah megah kepunyaan keluarga Fairchild serta disambut oleh Ny. Grose yang ialah pelayan. Ia juga setelah itu diperkenalkan oleh kedua anak di kediaman tersebut yang udah ditinggal mati oleh ibu dan bapaknya.

Semenjak malam awal menginap di rumah tersebut, Kate sering hadapi beberapa peristiwa mistis. Mulai dari kemunculan roh perempuan di jendela serta kaca kamar mandi sampai penampakan sesosok laki- laki di suatu lorong. Kabarnya, roh- roh yang timbul tersebut mempunyai ikatan dengan kedua pekerja tadinya yang berangkat dari rumah tersebut.

Plot di atas tersebut sesungguhnya sangat menarik buat dibesarkan jadi suatu film horor yang menegangkan. Sayangnya, eksekusi dari jalur cerita di The Turning sangat berputar- putar sehingga membuat kamu yang menyaksikan jadi mengantuk alias membosankan.

Bisa jadi dengan cerita yang berbalik tersebut mereka berharap hendak menarangkan segala poin berarti dari film ini. Tetapi, tampaknya akhir dari film ini enggak menarangkan apapun, tercantum pangkal kasus dari jalur ceritanya. Kamu yang menyaksikan film ini juga hendak terbuat bengong dengan bagian ending dari The Turning yang sangat absurd.

Kalaupun memanglah ending dari film ini terencana terbuat menggantung buat mengundang kedatangan sekuel, rasanya metode penyampaiannya tersebut senantiasa enggak pas. Perihal ini sebab masih terdapat metode lain buat mengakhiri film ini bila memanglah mau dilanjutkan ke film selanjutnya.

Energi Tarik Aktris Cilik yang Menghibur

Terlepas dari keabsurdan plotnya, film ini mempunyai energi tariknya tertentu, ialah aktris cilik Brooklynn Prince yang berfungsi bagaikan Flora Fairchild. Karakteristiknya yang polos serta menggemaskan sanggup menghibur pemirsa film ini di tengah jalur ceritanya yang rumit.

Sesungguhnya, enggak hanya Brooklynn Prince aja yang berakting bagus di film ini. Finn Wolfhard yang tadinya diketahui melalui aksinya di serial Stranger Things pula tampak apik bagaikan kakak dari Flora yang bernama Miles. Kemudian, Mackenzie Davis yang berfungsi bagaikan Kate si tutor pula sanggup menunjukkan ekspresi ketakutan yang lumayan brilian. Sayangnya, seluruh ini lagi- lagi‘ ternodai’ oleh alur ceritanya yang enggak jelas.

Horor yang Cuma Bermodalkan Jumpscare

Dalam membangun emosi berbentuk rasa khawatir ataupun ngeri dari pemirsa, suatu film horor umumnya mengandalkan faktor jumpscare di dalamnya, enggak terkecuali The Turning. Sayangnya, film yang didistribusikan Umum Pictures ini betul- betul cuma bermodalkan faktor jumpscare aja buat membuat penontonnya bergidik. Perihal ini juga cuma terjalin di paruh dini film, selainnya para pemirsa udah mulai dapat menduga momen mana aja yang mungkin hendak terdapat jumpscare- nya.

Sementara itu, tidak hanya jumpscare masih banyak faktor yang lain yang dapat membuat suatu film horor lebih mengerikan. Salah satunya merupakan dengan memakai faktor gore yang sesungguhnya udah nampak di dalam trailer kala mulut Miles dimasuki seekor tarantula. Tetapi, tampaknya adegan tersebut dipotong serta enggak terdapat sama sekali di filmnya.

Tidak hanya itu, film ini sesungguhnya pula dapat membangun rasa ngeri melalui plotnya seandainya enggak sangat terbuat berbelit. Perihal ini udah sempat dicoba sebagian film genre horor tadinya yang lebih mengedepankan pembangunan suasana ketakutan di antara pemirsa dibanding faktor jumpscare aja.

Scoring Menegangkan Khas Horor yang Enggak Terasa Spesial

Tidak hanya jumpscare, faktor yang enggak kalah berartinya dalam suatu film horor merupakan alunan musiknya, alias scoring. Perihal ini dapat dibilang sanggup dicoba oleh The Turning dalam menaikkan atmosfer kengerian dalam filmnya.

Sayangnya, scoring yang terdapat di film ini terkesan biasa aja serta enggak sangat memorable bila dibanding dengan film berjenis horor yang lain. Terlebih, musik- musik menegangkan cenderung timbul saat sebelum terdapat jumpscare. Perihal inilah yang setelah itu menyebabkan pemirsa dapat menduga momen- momen jumpscare yang terdapat di filmnya.

Nah, seperti itu pembahasan KINCIR tentang film The Turning. Oh ya, walaupun diperankan aktris cilik, film ini ditargetkan buat pemirsa 17 tahun ke atas sebab ada sebagian adegan vulgar di dalamnya. Jadi, jangan membawa anak kecil kala kamu menyaksikan film ini, ya!

Categories

Leave a comment

Name *
Add a display name
Email *
Your email address will not be published
Website